Silahkan,...,

siapa saja boleh, tanpa ada batasan apapun.

Jumat, 15 Januari 2010

Kendal Miliki Open Source Sendiri


 Jakarta - Meski bukan kota besar, Kendal berani untuk mandiri dalam hal penggunaan software komputer. Bahkan kota kecil di Jawa Tengah ini telah meluncurkan sistem operasi Open Source sendiri bernama KGOS versi 100110.

KGOS sendiri berasal dari nama 'Kendal Go Open Source'. OS ini merupakan hasil remastering dari Ubuntu 9.10 dengan penambahan beberapa program-program fungsional dan dibuat oleh Tim Pengembangan Open Source SMA Muhammadiyah 1 Weleri, Kabupaten Kendal. Sistem operasi KGOS v.100110 dipaket dalam satu DVD dengan ukuran file total kurang lebih 1,5 GB.

Dari keterangan tertulis yang diterima detikINET, Senin (11/1/2010), dalam acara peluncuran yang digelar di Pendopo Kabupaten Kendal tersebut dilaksanakan juga seminar nasional dengan sub tema 'Open Source, Pilihan Terbaik Dunia Pendidikan'.

Acara ini dihadiri oleh kurang lebih 300 peserta, yang sebagian besar terdiri atas guru dan para pengguna teknologi informatika, serta Bupati Kab. Kendal Siti Nurmarkesi. Sementara untuk pembicara diisi oleh Kepala PUSTEKOM Depdiknas Lilik Gani dan 'pendekar TI' Tanah Air Onno W. Purbo.

Dalam sambutannya Bupati Kendal mengungkapkan bahwa nantinya sistem operasi ini akan masuk dalam program kerja prioritas kabupaten. Beliau bahkan mendorong Kepala Dinas Pengolah Data Kab. Kendal untuk melakukan pendekatan secara proaktif kepada Tim Pengembang Open Source SMA Muhammadiyah 1 Weleri.

Menurut Onno Purbo, dengan diluncurkannya sistem operasi KGOS v.100110, Kendal menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang meluncurkan sistem operasi Open Source secara mandiri. Momentum ini semestinya bisa mendorong daerah lain untuk mengikuti jejak kabupaten yang ada di bumi pantura Jawa Tengah.

Onno menambahkan bahwa kunci pengembangan KGOS berada di 'dada kebanggaan' lokal Kendal. Saat KGOS menemukan momentum sebagai yang pertama di Indonesia, semestinya hal ini cukup untuk menyematkan kebanggaan di dada para pemakai KGOS yang kemudian menjadi bahan bakar untuk pengembangan KGOS selanjutnya.
Ardhi Suryadhi - detikinet



Jakarta - Firefox, browser Open Source dari Mozilla, dinobatkan sebagai piranti lunak paling banyak 'bolong'-nya di tahun 2009. Namun ini bukan berarti piranti lunak itu adalah yang paling lemah.

Data Qualys, penyedia layanan manajemen kelemahan piranti lunak, menempatkan Firefox sebagai piranti lunak paling 'bolong'. Artinya, piranti Open Source ini memiliki jumlah kelemahan paling banyak selama 2009 berdasarkan laporan publik.

Seperti dikutip detikINET dari Cnet, Selasa (22/12/2009), ini bukan berarti Firefox adalah piranti lunak paling lemah sejagat. Karena dikembangkan secara Open Source, wajar saja jika jumlah kelemahan yang terungkap di Firefox akan sangat besar.

Bandingkan dengan piranti lunak tertutup (Proprietary) yang jumlah kelemahan yang diketahui publik kebanyakan hanya terbatas pada kelemahan yang ditemukan pihak ketiga. Entah berapa banyak kelemahan yang ada namun tak diketahui.

Firefox menempati posisi pertama dengan jumlah 102 lubang. Berikutnya, di posisi kedua, adalah Adobe Reader yang mencapai 45 lubang (tiga kali lipat dari tahun sebelumnya). Di tempat ketiga adalah Microsoft Office yang 'hanya' mencatatkan 41 lubang. Kemudian ada Internet Explorer dengan 30 lubang.

Wolfgang Kandek, Chief Technology Officer dari Qualys, mengatakan angka ini berarti pihak penyerang mulai beralih dari mencari kelemahan pada sistem operasi ke piranti lunak di atasnya.

"Sistem operasi makin stabil dan sulit diserang, itu mengapa para penyerang beralih ke aplikasi. Adobe adalah fokus besar dalam serangan saat ini, 10 kali lebih besar daripada Microsoft Office. Meski demikian, target besar seperti Internet Explorer dan Firefox tetap jauh dari aman," ujarnya.
Wicak Hidayat - detikinet

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring mengatakan program 100 hari kinerja departemennya rata-rata telah terselesaikan di atas 90 persen.

"Untuk program 100 hari rata-rata pencapaian sudah 92 persen," kata Tifatul Sembiring di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan, sejumlah program seperti proyek pembangunan serat optik untuk ruas Indonesia Timur yakni Palapa Ring telah dilauncurkan pada 30 November 2009 dan terus berjalan hingga ditargetkan rampung akhir 2010.

Program yang lain seperti 25.000 desa berdering di 32 provinsi telah tercapai 23.000 desa."Sementara program 100 desa internet sudah berjalan," katanya.

Sektor telekomunikasi sendiri telah mampu menyumbangkan kepada PNBP nasional mencapai Rp9,91 triliun hingga akhir Desember 2009 atau 1,26 persen melebihi target yang ditetapkan Rp7,26 triliun.

"Saya rasa cukup bagus sektor ini menyumbang kepada PNBP nasional," katanya.

Pada 2010, pihaknya fokus untuk melanjutkan rencana pembentukan ICT Fund untuk menunjang penyediaan dana pembangunan jaringan serat optik untuk wilayah Indonesia timur.

Pihaknya juga menyatakan akan menyelesaikan penerapan program IGOS (Indonesia Go Open Source) bagi seluruh institusi pemerintahan pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.

Sejumlah program lain akan dilaksanakan pada 2010 yakni menyelesaikan rehabilitasi dan peningkatan kapasitas pemancar televisi untuk 30 stasiun televisi di wilayah Indonesia.

TIfatul mengatakan pihaknya juga akan merintis penyediaan media center di 15 kabupaten/kota yang memiliki wilayah perbatasan, tertinggal, dan terpencil. Di bidang regulasi, pihaknya akan mulai memberlakukan UU nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik pada 1 April 2010.(*)

Komputer Anda sudah “dijaga” ketat oleh antivirus. Tapi, nanti dulu! Tidak semua antivirus dapat melawan spyware, worm, trojan, dan rootkit. CHIP telah menguji 20 ANTIVIRUS dan akan memberikan rekomendasi software mana saja yang benar-benar dapat membantu dan dapat diperoleh gratis.
?Saat sedang browsing Internet atau menulis e-mail, Anda dikejutkan dengan kejadian yang cukup a­neh. Program teks mendadak tertutup. Browser dengan sendirinya membuka website yang belum pernah dikunjungi. Terakhir, komputer restart sendiri. Kejadian ini jelas menandakan bahwa komputer Anda sudah dibajak. Ada bandit Internet yang menyusupkan malware ke dalam komputer Anda kemudian me­ngambil alih kendali komputer. Memang, kasus malware di atas lebih mudah dikenali. Trojan dan rootkit sebenarnya dapat bersembunyi dengan baik dan komputer tetap berjalan seperti biasa. Namun, tanpa diketahui, data-data pribadi Anda dikirim ke penjahat tersebut.

“Gak masalah” mungkin itu yang Anda katakan. “Saya sudah install antivirus kok.” Namun, apakah software tersebut sudah di-update? Apakah sistem perlindungannya dapat mendeteksi software perusak pada komputer? CHIP akan memberikan jawabannya. CHIP telah menguji 20 antivirus untuk menentukan apakah semuanya dapat mendeteksi dan membuang virus dan rootkit, baik yang sudah ter-install maupun yang tidak aktif.
Bila ingin segera mengetahui apakah komputer sudah terinfeksi atau tidak, Anda dapat menggunakan layanan online scanner gratis. Hampir semua produsen antivirus menawarkan webtool seperti ini. Bila PC Anda terkena virus/malware, gu­nakan program antivirus untuk membersihkan program perusak tersebut. Antivirus versi web pada umumnya tidak memiliki kemam­puan untuk itu.

Realtime scanner: malware dilarang masuk

Untuk pengujian ini, para ahli dari AV Test telah “menanam” sepuluh virus yang dianggap menggunakan teknik terbaru. Mereka terdiri atas spyware pencuri password, trojan yang men-download malware dari Internet, worm yang menyebar melalui e-mail, dan rootkit yang bersembunyi jauh di  dalam sistem. Sebuah antivirus yang baik bakal dapat mendeteksi semua program perusak ini dan membuangnya dengan sempurna. Tingkat pendeteksian dan pembersihan menjadi satu-satunya kriteria yang terlihat dalam penilaian total, tanpa melihat efisiensi resource yang digunakan. Kemudahan penggunaan hanya akan dilihat bila memang benar-benar membantu.
Idealnya, program antivirus harus dapat menangkap malware sebelum perusak tersebut meng-install dirinya. Oleh sebab itu, para kandidat harus mendeteksi sebuah database yang berisi 3.194 virus yang tersebar luas. Jadi, akan diuji apakah program memiliki signature untuk sampel virus atau dapat mendeteksi malware dengan teknik heuristic. Malware yang tidak aktif harus dapat ditemukan oleh para kandidat dengan menggunakan scanner dan kemudian dengan realtime scanner mereka. Tugas wajib ini memang dapat dilakukan dengan baik oleh sebagian besar program. Walaupun demikian, terdapat 12 antivirus yang tidak dapat mendeteksi virus yang ada. Di bagian lain, fungsi realtime protector dari Ashampoo malah lebih sedikit mendeteksi virus dibandingkan dengan scanner-nya. Scanner open source ClamWin terbukti kurang andal.  Program ini melewatkan sekitar 500 virus. Bahkan, program ini tidak menyediakan fungsi realtime scanner!
by CHIP Team Alpha | January 4th, 2010 | Categories: Hardware